Ketua DPW Muda Seudang Bireuen, Sayed Chairul Raziq Alaydrus
Detikacehnews.id | Bireuen – Sebuah fenomena menarik tengah menyita perhatian masyarakat dan kader Partai Aceh (PA) di Kabupaten Bireuen. Spanduk-spanduk misterius yang tidak diketahui siapa pemasangnya bertebaran di berbagai wilayah, memicu spekulasi dan perbincangan hangat di kalangan masyarakat serta elite politik lokal. Spanduk ini menyerukan keterbukaan dalam pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Bireuen, yang dianggap sebagai bagian dari dinamika politik menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) partai tersebut.
Menanggapi fenomena ini, DPW Muda Seudang Bireuen, sebagai organisasi underbow Partai Aceh, menyampaikan sikap resmi mereka. Ketua DPW Muda Seudang Bireuen, Sayed Chairul Raziq Alaydrus, menegaskan bahwa dinamika seperti ini adalah hal yang wajar dalam politik, terutama menjelang pergantian kepemimpinan di tingkat daerah.
Menurut Sayed Chairul Raziq Alaydrus, keberadaan spanduk ini tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk provokasi atau upaya untuk menggiring opini negatif terhadap DPW Partai Aceh Bireuen. Ia justru melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa Partai Aceh masih memiliki dinamika politik yang hidup dan berkembang.
"Kami juga sepakat dengan pernyataan JASA Bireuen sebelumnya agar tidak ada pihak yang mencoba memprovokasi atau menggiring opini negatif terhadap DPW PA Bireuen. Melihat dari sudut pandang organisasi, manuver seperti ini sudah biasa terjadi. Artinya, dinamika dan retorika Partai Aceh Bireuen masih berjalan," ujar Sayed.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepengurusan DPW PA Bireuen memang hampir berakhir, dan Muswil merupakan forum yang tepat untuk menentukan arah kepemimpinan baru. Oleh karena itu, DPW Muda Seudang Bireuen menyerukan agar semua pihak menghormati proses yang ada dan memastikan Muswil berjalan dengan terbuka, demokratis, dan sesuai mekanisme partai.
"Dalam pelaksanaan Muswil Partai Aceh yang akan datang, perlu ada keterbukaan. Pemilihan Ketua DPW PA Bireuen harus sesuai mekanisme dan tahapan yang telah diatur dalam AD/ART partai," tambahnya.
Di Indonesia, aturan mengenai partai politik telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, yang merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. Salah satu poin penting dalam regulasi ini adalah prinsip keterbukaan dalam menjalankan partai politik. Dengan demikian, Muswil bukan hanya sekadar ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi momen krusial untuk memperkuat internal partai, membangun konsensus, serta merumuskan arah perjuangan politik ke depan.
Menurut DPW Muda Seudang Bireuen, keterbukaan dalam Muswil akan memberikan kesempatan bagi seluruh kader untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan. Transparansi ini penting untuk mencegah konflik internal serta memastikan kepemimpinan yang terpilih nantinya mendapatkan legitimasi yang kuat.
"Kami menilai bahwa Muswil yang demokratis dan terbuka akan memperkuat legitimasi kepemimpinan partai ke depan. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang partisipatif dan transparan akan lebih mudah mendapatkan dukungan serta kepercayaan dari seluruh kader dan masyarakat Aceh," jelas Sayed.
Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan yang dipilih dengan proses yang adil dan transparan akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan politik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, Muswil juga harus menjadi ajang membuka ruang bagi kader-kader potensial Partai Aceh Bireuen untuk tampil dan berkontribusi lebih besar bagi partai serta masyarakat.
DPW Muda Seudang Bireuen juga mendorong agar Muswil tidak hanya berfokus pada pemilihan ketua, tetapi juga menjadi momentum untuk membahas isu-isu strategis yang relevan bagi Aceh saat ini.
Selain itu, Sayed Chairul Raziq menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Partai Aceh selama ini. Menurutnya, tanpa evaluasi yang jujur dan objektif, partai berisiko terjebak dalam stagnasi dan kehilangan relevansi di mata masyarakat. Oleh karena itu, DPW Muda Seudang Bireuen berharap Muswil tidak hanya menjadi ajang pemilihan kepemimpinan, tetapi juga sebagai momen refleksi dan perbaikan untuk masa depan yang lebih baik.
"Evaluasi yang jujur sangat penting untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan, sekaligus merumuskan langkah-langkah perbaikan ke depan. Tanpa evaluasi kritis, partai berisiko kehilangan arah dan tidak lagi relevan bagi rakyat Aceh," katanya.
Di akhir pernyataannya, DPW Muda Seudang Bireuen mengajak seluruh kader Partai Aceh untuk menjadikan Muswil sebagai ajang silaturahmi dan persatuan, bukan perpecahan.
"Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi perbedaan ini harus disikapi dengan bijak dan dewasa. Jangan sampai perbedaan pandangan justru memecah belah partai. Kami berharap Muswil berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemajuan bagi Partai Aceh dan masyarakat Aceh," tutup Sayed Chairul Raziq.